[News] Otobiografi | Pekan Teater Nasional 2019


I

Otobiografi berangkat dari amatan atas kesenian Kethek Ogleng yang bermula dan berkembang di daerah terutama Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) dan Wonogiri (Jawa Tengah), termasuk juga Gunung Kidul (Yogyakarta), serta beberapa daerah lain di pulau Jawa. Setelah mengalami modifikasi, personifikasi Kethek Ogleng ini kemudian meminjam watak dari salah satu karakter dalam kisah epik Ramayana bernama Anoman (atau Hanoman). Sementara narasi yang melatari pengisahan Kethek Ogleng sendiri berasal dari cerita panji, yaitu kisah cinta melodrama yang kelewat klise antara Dewi Sekartaji dengan Panji Asmarabangun. Dua-duanya dari kalangan elit kerajaan, yaitu putra-putri mahkota kerajaan Jenggala dan kerajaan Kadiri.

Dari itu dapat kita lihat bahwa ada dua sumber berbeda yang menyertai Kethek Ogleng: Anoman (Ramayana) dan Cerita Panji (dari kultur/cerita lisan dan bukti material relief di candi-candi peninggalan masa Majapahit). Banyak sumber dan versi yang menceritakan kisah cinta dua anak raja ini, namun karena keduanya hanya menjadi basis cerita untuk memunculkan tokoh kera putih atau Kethek Ogleng sebagai protagonis (di dalam cerita panji tidak ada tokoh kera putih). Kethek Ogleng adalah tokoh utama sementara Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun adalah tokoh ‘menyamping’. Dalam beberapa pagelaran, dua sosok ini kadang muncul dan kadang tidak.

II

Kethek Ogleng adalah kesenian ‘arbitrer’ sebab ia situasional dan plastis (terutama di level koreografinya). Ia tidak tumbuh di lingkungan pusat keraton dengan kategori kesenian tradisi yang utuh (pakem) dan adiluhung. Kethek Ogleng tumbuh di lingkungan masyarakat petani di daerah pinggiran Jawa bagian selatan (Pacitan dan Wonogiri). Ia juga termasuk kesenian ‘baru’ sebab ditemukan sekitar tahun 1960-1970-an. Namun, setidaknya di dua daerah tersebut, Kethek Ogleng dianggap sebagai kesenian tradisi sebab mampu menjadi penanda identitas dan dapat mengartikulasikan kualitas ‘pinggiran’ di dalam kultur petani. 

III

Alih-alih memunculkan kembali figur kethek (kera) sebagai karakter utama dan me-reenactment ketinampilan Kethek Ogleng, pertunjukan Otobiografi ini mencoba melihat kemungkinan pilihan dramaturgi dari cerita panji yang disadurnya, yaitu menjadikan sosok Dewi Sekartaji sebagai elemen pengisahan utama.

Kami tertarik untuk melihat ulang Dewi Sekartaji di dalam narasi lingkaran kekuasaan dan sekaligus spekulasi atas konteks dia sebagai perempuan yang hidup di lingkungan sosial hari ini yang dinarasikan secara personal melalui ‘otobiografi’ performer perempuan. Sementara Kethek Ogleng dilihat sebagai siasat untuk menarasikan situasi yang kompleks di luar dinding kekuasaan (kerajaan): mulai perkara identitas (penyamaran Dewi Sekartaji ketika berada di tempat lain dan atau penyamaran Panji Asmarabangun menjadi kera dalam versi pengisahan yang lain) sampai imajinasi tentang batas domestik dan publik (di dalam istana dan di luar istana) dan mobilitas (pelarian Dewi Sekartaji dari kerajaan dan hidup sebagai rakyat biasa). Pertunjukan Otobiografi ini diproyeksikan sebagai pengisahan spekulatif atas kehidupan Dewi Sekartaji di dalam komunitas sosial hari ini dan masa depan.

Sebagaimana tokoh Anoman yang dipersonifikasikan oleh kesenian Kethek Ogleng, pertunjukan ini juga melakukan cara yang sama: mempersonifikasi sosok Dewi Sekartaji melalui biografi para performer.


Sutradara: Shohifur Ridho’i
Performer: Radha Puri Septiany, Valentina Ambarwati, Lisda Rabiatul Maulida
Komposer: Hery Glen
Desainer Cahaya: Oong M. Pathor
Desainer Visual: Erwin Oktavian
Dokumentasi: Kurnia Yaumil Fajar


Senin, 23 September 2019
20.00 WITA
Taman Budaya Samarinda, Kalimantan Timur